‹ Semua renungan

Senin, 19 Oktober 2026

Lumbung

Lemari kita punya kebiasaan aneh: selalu terasa kurang besar. Dulu satu lemari cukup. Sekarang dua penuh, dan kita mulai melirik gudang. Barang bertambah, tetapi rasa cukup tidak ikut bertambah.

Orang kaya dalam perumpamaan Yesus mengalami hal yang sama dalam skala besar. Tanahnya berlimpah hasilnya. Masalahnya satu: lumbungnya kurang. Maka ia berencana merombak lumbung lama dan mendirikan yang lebih besar. Dengarkan kata-katanya: hasil tanahku, lumbungku, gandumku, barang-barangku, jiwaku. Semua serba aku. Dalam seluruh rencananya tidak ada Allah, tidak ada sesama, bahkan tidak ada keluarga.

Lalu Allah menyapanya dengan sebutan yang mengejutkan: hai engkau orang bodoh. Bukan orang jahat. Bodoh. Ia tidak mencuri, tidak menipu. Ia hanya salah hitung besar-besaran: mengira hidupnya tergantung pada kekayaannya, dan lupa bahwa malam itu juga jiwanya akan diambil. Apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?

Paulus dalam bacaan pertama memberi hitungan yang benar: karena kasih karunia kamu diselamatkan, itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah. Hidup ini pemberian, bukan pencapaian. Orang yang sadar semuanya pemberian akan gampang membagi.

Lumbung tidak salah. Yang salah kalau lumbung menjadi jiwa kita.

Tuhan, jadikan aku kaya di hadapan-Mu, bukan hanya penuh di lumbungku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →