Minggu, 18 Oktober 2026
Yang Tinggal
Ada dua macam nama dalam hidup kita: nama yang hadir waktu pesta, dan nama yang tinggal waktu susah. Daftar pertama biasanya panjang. Daftar kedua pendek, kadang hanya satu dua. Dan justru daftar pendek itulah yang paling kita kenang.
Bacaan pertama hari ini adalah salah satu potongan paling manusiawi dalam Perjanjian Baru. Paulus yang tua menulis dari penjara Roma, menjelang akhir hidupnya. Nadanya bukan nada pahlawan, melainkan nada orang yang kesepian: Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Kreskes pergi ke Galatia, Titus ke Dalmatia. Pada pembelaanku yang pertama tidak seorang pun membantu aku. Lalu satu kalimat kecil yang bersinar: hanya Lukas yang tinggal dengan aku.
Hanya Lukas. Tabib terpelajar itu memilih tinggal di samping tahanan tua yang perkaranya hampir pasti kalah. Tidak ada panggung di penjara, tidak ada jemaat yang bertepuk tangan. Yang ada hanya kesetiaan. Pada tanggal inilah Gereja biasa merayakan pesta Santo Lukas, penulis Injil dan Kisah Para Rasul, dan bacaan ini memperlihatkan sisi lainnya: sahabat yang tidak pergi.
Injil hari ini pun dari tangannya. Hanya Lukas yang mencatat pengutusan tujuh puluh murid, diberangkatkan berdua-dua mendahului Yesus. Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Mereka diminta berjalan ringan: tanpa pundi, tanpa bekal, tanpa kasut. Bawaannya hanya satu kalimat untuk tiap rumah: damai sejahtera bagi rumah ini.
Dua bacaan ini diam-diam saling menjelaskan. Pengutusan itu indah didengar, tetapi ujungnya bisa seperti Paulus: ditinggalkan, dimusuhi, sendirian. Di titik itulah kalimat berikutnya menjadi penting: tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku. Yang diutus tidak pernah benar-benar sendirian. Ada Tuhan yang mendampingi, dan sering kali pendampingan itu memakai wajah manusia. Wajah seorang Lukas.
Maka panggilan Minggu ini barangkali dua arah. Pertama, berangkat: menjadi pembawa damai di kota kita sendiri, di rumah dan tempat kerja yang kita masuki setiap hari. Kedua, tinggal: menjadi Lukas bagi seseorang yang sedang berada di titik terendahnya. Menemani yang sakit, duduk bersama yang berduka, tetap menyapa kawan yang sedang jatuh nama baiknya.
Dunia menghitung kehadiran kita di pesta. Tuhan menghitung siapa yang tinggal saat semua pergi.
Tuhan, jadikan aku pembawa damai yang ringan bekal, dan sahabat yang setia tinggal. Jangan biarkan seorang pun di dekatku merasa ditinggalkan sendirian. Amin.