Selasa, 6 Oktober 2026
Duduk Dahulu
Dapur menjelang tamu datang adalah medan perang kecil. Air mendidih, minyak meletup, piring belum cukup. Di saat seperti itu, melihat orang lain duduk santai rasanya seperti penghinaan.
Marta merasakan itu. Ia sibuk sekali melayani, sementara Maria duduk di kaki Yesus, mendengarkan. Protesnya sangat manusiawi: Tuhan, tidakkah Engkau peduli? Suruhlah dia membantu aku.
Menariknya, kemarin Yesus baru saja menutup kisah orang Samaria dengan perintah: pergilah, dan perbuatlah demikian. Hari ini seolah Ia berkata sebaliknya: Marta, Marta, hanya satu saja yang perlu. Maria telah memilih bagian yang terbaik. Mana yang benar, bekerja atau duduk?
Dua-duanya. Tetapi ada urutannya. Pelayanan yang tidak berangkat dari mendengarkan lama-lama berubah menjadi kesibukan yang gelisah, penuh hitungan, mudah tersinggung. Persis seperti Marta yang mulai menyalahkan adiknya, bahkan menyalahkan Yesus.
Paulus dalam bacaan pertama bercerita: setelah perjumpaan dengan Kristus, ia tidak langsung berkeliling mengajar. Ia pergi dulu ke tanah Arab. Menepi. Bertahun-tahun. Rasul sebesar itu pun butuh duduk dahulu sebelum berlari.
Kita hidup di zaman yang memuja kesibukan. Yesus tidak menegur kerja keras Marta. Ia menegur hati yang tidak sempat duduk.
Tuhan, sebelum aku sibuk untuk-Mu, biarkan aku duduk dulu bersama-Mu. Amin.