‹ Semua renungan

Minggu, 4 Oktober 2026

Menanti Buah

Di desa-desa Jawa ada kebiasaan tua bernama maro: pemilik sawah menyerahkan tanahnya digarap orang lain, hasilnya dibagi dua. Semua bersandar pada kepercayaan. Pemilik percaya penggarap jujur. Penggarap percaya pemilik tidak serakah. Sekali kepercayaan itu rusak, rusaklah semuanya.

Minggu lalu Yesus bercerita tentang dua anak yang disuruh bekerja di kebun anggur. Hari ini kebun anggur itu muncul lagi, dan ceritanya makin gelap. Pemilik kebun menyewakan kebunnya kepada para penggarap, lalu berangkat jauh. Musim petik tiba. Ia mengirim utusan untuk mengambil bagiannya. Utusan dipukul, dilempari batu, dibunuh. Ia mengirim lagi. Sama saja. Akhirnya ia mengirim anaknya sendiri. Anak itu justru diseret ke luar kebun dan dibunuh.

Cerita ini aneh kalau ditimbang dengan logika dagang. Pemilik mana yang sesabar itu? Sekali utusannya dianiaya, mestinya ia datang membawa aparat. Tetapi justru di situ intinya. Kesabaran yang tidak masuk akal itu adalah potret Allah. Ia mengirim nabi demi nabi kepada umat-Nya. Ditolak, dikirim lagi, ditolak lagi. Sampai akhirnya Ia mempertaruhkan Anak-Nya sendiri.

Yesaya dalam bacaan pertama memakai gambar yang sama dengan nada sedih. Allah mencangkul, membuang batu, menanam pokok anggur pilihan, mendirikan menara. Semua sudah diberikan. Lalu satu kalimat yang menusuk: dinanti-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman. Kebun itu tidak dituntut menghasilkan emas. Hanya buah anggur. Hanya keadilan dan kebenaran. Buah yang wajar dari tanah yang sudah dirawat sebaik itu.

Kita ini kebun yang dirawat. Hidup, waktu, kesehatan, orang-orang yang mengasihi kita, iman yang diturunkan, semuanya modal dari Pemilik. Pertanyaannya polos saja: ke mana hasilnya mengalir? Kalau semua panen habis untuk lumbung sendiri, kita sedang mengulang kisah para penggarap itu, hanya dengan cara yang lebih halus.

Paulus dalam bacaan kedua memberi resep hidup penggarap yang baik: jangan kuatir tentang apa pun, nyatakan keinginanmu kepada Allah dalam doa dengan ucapan syukur, dan pikirkanlah semua yang benar, yang mulia, yang adil, yang suci. Hati yang bersyukur sulit menjadi serakah. Orang yang sadar semuanya titipan tidak akan tega mengangkangi kebun.

Musim petik selalu datang. Semoga saat Pemilik kebun menengok bagian kita, Ia menemukan buah, bukan alasan.

Tuhan, Engkau telah merawat hidupku seperti kebun anggur pilihan. Jangan biarkan aku menahan hasil yang menjadi hak-Mu. Jadikan aku penggarap yang setia. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →