Sabtu, 3 Oktober 2026
Melihat Sendiri
Ada beda besar antara mendengar cerita dan mengalami sendiri. Orang bisa hafal cerita tentang gunung dari buku. Tetapi berdiri di puncaknya saat kabut terbuka, itu perkara lain. Kaki gemetar, dada penuh.
Ayub sampai di titik itu. Setelah semua penderitaan dan perdebatan panjang, ia berkata: hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Imannya bukan lagi iman warisan. Iman yang sudah menjadi perjumpaan. Dan perjumpaan itu justru lahir dari masa paling gelap dalam hidupnya.
Dalam Injil, murid-murid yang kemarin diutus kini pulang dengan gembira. Setan pun takluk, kata mereka. Yesus ikut bergembira, tetapi Ia meluruskan arah sukacita itu: jangan bersukacita karena roh-roh takluk, bersukacitalah karena namamu terdaftar di sorga. Kuasa bisa memabukkan. Sukacita yang sejati adalah dikenal dan dicatat oleh Allah sendiri.
Berapa lama kita beriman? Sepuluh tahun? Lima puluh? Pertanyaannya bukan lamanya, tetapi jaraknya. Apakah Allah masih sebatas kata orang, kata guru agama, kata khotbah? Atau sudah pernah kita pandang sendiri, dalam doa yang sunyi, dalam pertolongan yang datang tepat waktu?
Tuhan, jangan biarkan aku puas mengenal-Mu dari kata orang. Berilah mataku memandang Engkau. Amin.