Senin, 28 September 2026
Kabar Buruk Beruntun
Ada hari-hari ketika telepon seakan tidak mau berhenti berdering, dan semua isinya kabar buruk. Belum selesai satu berita dicerna, berita berikutnya datang. Kitab Ayub melukiskan hari semacam itu dengan cara yang mengerikan: empat pesuruh datang susul-menyusul, dan kalimat penutup mereka sama persis. Hanya aku sendiri yang luput.
Dalam sehari Ayub kehilangan ternak, harta, para pekerja, dan sepuluh anaknya. Di balik layar, Iblis sedang bertaruh: Ayub saleh hanya karena dipagari berkat. Ulurkanlah tangan-Mu, ia pasti mengutuki Engkau.
Jawaban Ayub mematahkan taruhan itu. Ia berduka sepenuh-penuhnya, mengoyak jubah dan mencukur kepala, lalu sujud menyembah: TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN. Ia tidak berpura-pura tegar. Ia berduka sambil menyembah.
Pertanyaan Iblis itu diam-diam menusuk kita juga: kita ini mengasihi Allah, atau mengasihi berkat-Nya? Iman yang hanya hidup ketika keadaan aman adalah iman yang belum teruji.
Dalam Injil, para murid bertengkar tentang siapa yang terbesar. Ayub sudah lebih dulu tahu jawabannya: yang terbesar adalah yang tetap menyembah ketika tangannya tidak lagi memegang apa-apa.
Tuhan, Engkau yang memberi dan Engkau yang mengambil. Peliharalah imanku, supaya tetap menyembah-Mu dalam untung dan malang. Amin.