‹ Semua renungan

Minggu, 27 September 2026

Iya yang Ditunda

Setiap rumah dengan anak kecil mengenal percakapan ini. Nak, mandi dulu. Iya, Ma. Tiga puluh menit kemudian anak itu masih di tempat yang sama, dan iya tadi menguap entah ke mana. Kita tersenyum, sebab jujur saja, kepada Allah kita pun sering begitu. Iya kita rajin, berangkat kita jarang.

Perumpamaan Yesus hari ini pendek dan tajam. Seorang bapak menyuruh dua anaknya bekerja di kebun anggur. Anak pertama menjawab manis, baik bapa, tetapi tidak pergi. Anak kedua menjawab kasar, aku tidak mau, tetapi kemudian menyesal lalu pergi juga. Siapakah yang melakukan kehendak ayahnya? Semua pendengar tahu jawabannya: yang terakhir. Kata-kata manis kalah oleh kaki yang melangkah.

Lalu Yesus mengejutkan para pendengar saleh-Nya: pemungut cukai dan perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Bukan karena dosa mereka bagus, melainkan karena ketika kebenaran datang lewat Yohanes, mereka percaya dan berbalik. Sedangkan yang rajin berkata iya di bibir tidak pernah sungguh berangkat ke kebun.

Yehezkiel meneguhkan arah yang sama. Kalau orang fasik bertobat, ia akan hidup; kalau orang benar berbalik kepada kecurangan, ia akan mati. Allah tidak menilai label awal kita. Ia menilai arah akhir kita. Ini kabar baik yang melegakan: masa lalu tidak memenjarakan siapa pun. Pintu kebun anggur terbuka, bahkan bagi yang kemarin berkata tidak.

Minggu lalu kita mendengar Paulus berkata, bagiku hidup adalah Kristus. Hari ini, dalam madah Filipi yang agung, ia memperlihatkan wajah ketaatan yang sempurna. Kristus, walaupun dalam rupa Allah, telah mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba, dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Para ahli menyebutnya kenosis, pengosongan diri. Iya yang diucapkan Yesus bukan iya basa-basi. Iya itu berjalan terus, dari Nazaret sampai Kalvari.

Di antara dua anak dalam perumpamaan itu, sesungguhnya ada Anak yang ketiga: Dia yang berkata iya kepada Bapa dan pergi sampai tuntas. Bagi kita yang gemar menunda, Dia bukan hanya teladan, melainkan juga kekuatan.

Maka pertanyaan hari Minggu ini sederhana dan pribadi: iya mana yang sudah lama kita ucapkan kepada Tuhan, tetapi belum juga kita berangkatkan? Berdamai dengan saudara? Kembali mengaku dosa? Pelayanan yang dahulu kita janjikan?

Bapa, terlalu banyak iya-ku yang berhenti di bibir. Oleh ketaatan Putera-Mu, gerakkanlah kakiku menuju kebun anggur-Mu hari ini. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →