Sabtu, 26 September 2026
Sebelum Senja
Tanda-tandanya datang pelan-pelan. Huruf koran mulai dijauhkan dari mata, dan lengan terasa kurang panjang. Lutut berbunyi ketika menaiki tangga. Nama kenalan baru cepat sekali lupa. Tubuh adalah jam dinding yang jujur. Ia tidak bisa disuap untuk berhenti.
Pengkhotbah melukis usia tua dengan puisi yang halus. Penjaga-penjaga rumah gemetar: itu tangan. Perempuan-perempuan penggiling berhenti karena berkurang jumlahnya: itu gigi. Yang melihat dari jendela semuanya menjadi kabur: itu mata. Maka nasihatnya justru diberikan kepada yang muda: ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang.
Mengapa harus sekarang? Karena menunda adalah seni yang paling kita kuasai. Nanti kalau sudah tenang. Nanti kalau sudah pensiun. Padahal iman yang ditunda sampai senja sering tidak sempat berakar. Akar membutuhkan musim, dan musim tidak bisa dirapel.
Yesus pun tidak menunda kebenaran. Kemarin Ia mengakui diri sebagai Mesias yang harus menderita. Hari ini, tepat di puncak kekaguman orang banyak, Ia mengulanginya: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. Tidak enak didengar, tetapi perlu dikatakan sekarang.
Kapan waktu terbaik untuk mengingat Pencipta? Selagi napas masih panjang: hari ini.
Penciptaku, kuingat Engkau hari ini, bukan nanti. Jadikanlah seluruh musim hidupku milik-Mu. Amin.