Jumat, 25 September 2026
Ada Waktunya
Petani tidak pernah memaksa musim. Ia tahu kapan tanah dibajak, kapan benih ditebar, kapan tinggal menunggu hujan. Menanam padi di puncak kemarau bukan kegigihan, melainkan kesia-siaan. Alam mengajarkan sabar jauh sebelum buku-buku menuliskannya. Yang melawan musim akan lelah sendiri.
Pengkhotbah merangkum hikmat itu dalam salah satu puisi terindah Kitab Suci: untuk segala sesuatu ada masanya. Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun. Lalu ditutup dengan kalimat yang menenangkan: Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.
Injil memperlihatkan Yesus yang hidup dalam irama itu. Kemarin Herodes bertanya-tanya, siapa gerangan Dia ini. Hari ini Petrus menjawab tepat: Mesias dari Allah. Anehnya, Yesus melarang keras mereka memberitahukannya. Belum waktunya. Sebab Mesias yang benar harus lebih dahulu menanggung penderitaan, ditolak, dibunuh, dan dibangkitkan pada hari ketiga. Ada waktunya diam, ada waktunya diwartakan. Bahkan kabar terbaik pun menunggu musimnya.
Kita sering memaksa musim: ingin panen tanpa menunggu, ingin kemuliaan tanpa salib. Padahal indah itu janji-Nya, dan pada waktunya itu syarat-Nya. Sabar bukan berarti diam; sabar berarti percaya pada irama Allah.
Tuhan, ajarilah aku membaca musim-Mu, dan percaya bahwa Engkau membuat segalanya indah pada waktunya. Amin.