‹ Semua renungan

Kamis, 24 September 2026

Segala Sesuatu Uap

Perhatikan cerek yang mendidih. Uap mengepul dari mulutnya, tampak jelas sebentar, lalu hilang tanpa bekas. Mau digenggam? Tangan hanya basah. Begitu rupanya nasib banyak hal yang kita kejar mati-matian.

Kata yang diterjemahkan sia-sia dalam kitab Pengkhotbah adalah kata Ibrani hevel: uap, hembusan napas. Kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia, sebenarnya berbunyi: semuanya uap. Matahari terbit lalu terbenam, sungai mengalir tetapi laut tidak kunjung penuh, keturunan datang dan pergi. Tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.

Kedengarannya muram. Padahal Pengkhotbah sedang berbaik hati: ia mematahkan ilusi kita sebelum ilusi itu mematahkan kita. Harta, nama besar, kedudukan, semuanya uap yang tampak sebentar.

Herodes contohnya. Kemarin para murid diutus berkeliling membawa kabar baik. Kabar itu sampai ke istana, dan sang raja justru cemas. Ia sudah memenggal Yohanes, tetapi tidurnya tetap tidak tenang. Istana dan kuasa ternyata tidak bisa membeli damai di hati.

Pengkhotbah tidak mengajak kita putus asa. Ia mengajak kita berhenti menggenggam uap, dan mulai mencari Dia yang tidak pernah menguap.

Apa yang selama ini paling erat kita genggam?

Tuhan yang kekal, di tengah dunia yang menguap, jadilah Engkau pegangan hidupku yang tetap. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →