Selasa, 15 September 2026
Ibu di Gerbang Nain
Bila iring-iringan jenazah lewat di jalan kampung, semua berhenti. Kendaraan menepi, orang menunduk, obrolan senyap. Ada duka yang membuat semua orang serentak diam. Apalagi bila yang diusung anak muda, dan yang berjalan paling dekat dengan usungan adalah ibunya.
Di gerbang kota Nain, dua rombongan berpapasan. Rombongan kematian keluar: jenazah anak tunggal seorang janda. Rombongan kehidupan masuk: Yesus dan orang banyak. Lukas mencatat pemicunya dengan indah: ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Perempuan itu tidak meminta apa-apa. Yesus bergerak lebih dulu. Hai anak muda, bangkitlah! Lalu Yesus menyerahkannya kepada ibunya.
Hari ini Gereja mengenang Santa Perawan Maria Berdukacita, tepat sehari setelah pesta Salib Suci. Maria juga ibu yang mengantar anak tunggalnya ke kematian. Bedanya, di Kalvari tidak ada mukjizat yang menghentikan usungan. Anaknya tidak diserahkan kembali kepadanya. Justru dari salib, dialah yang diserahkan kepada kita: inilah ibumu.
Karena pernah berdiri di dasar duka, Maria memahami setiap orang yang berduka. Siapa di sekitar kita yang hari-hari ini sedang berjalan di belakang usungan?
Bunda Maria yang berdukacita, temanilah para ibu yang menangis, dan ajarilah kami ikut tergerak seperti Puteramu. Amin.