Senin, 14 September 2026
Racun yang Menyembuhkan
Dunia kedokteran punya cara yang mengejutkan untuk melawan gigitan ular: serum antibisa justru dibuat dari bisa ular itu sendiri. Racun yang mematikan, setelah diolah, menjadi bahan penyelamat nyawa. Yang membunuh dipakai untuk menyembuhkan.
Logika aneh itu sudah muncul di padang gurun. Israel yang bersungut-sungut dipagut ular-ular berbisa. Lalu Allah memberi jalan kesembuhan yang tidak masuk akal: Musa harus membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang. Setiap orang yang terpagut, jika memandangnya, akan tetap hidup. Obatnya berupa gambar dari penyakitnya sendiri.
Yesus mengambil kisah itu untuk menjelaskan salib-Nya. Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan. Salib adalah alat hukuman paling hina, lambang kutuk dan kekalahan. Justru itulah yang dipilih Allah menjadi tanda kasih terbesar: karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.
Hari ini pesta Salib Suci. Memandang salib bukan memuja penderitaan. Memandang salib berarti percaya bahwa tidak ada racun dalam hidup kita yang tak dapat Allah olah menjadi keselamatan.
Yesus yang ditinggikan di kayu salib, ketika aku terpagut dosa dan luka, arahkanlah mataku memandang Engkau. Amin.