Minggu, 13 September 2026
Buku Utang Warung
Warung kecil di kampung biasanya punya satu buku tulis bersampul lusuh. Isinya catatan utang para pelanggan, ditulis pensil, kadang hanya nama dan angka. Sesekali ada nama yang dicoret panjang. Lunas. Bagi yang berutang, coretan itu kabar gembira yang sesungguhnya.
Minggu lalu kita diajak menegur saudara di bawah empat mata demi mendapatkannya kembali. Petrus rupanya masih menghitung-hitung. Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku? Sampai tujuh kali? Angka itu sudah terasa heroik. Jawab Yesus: tujuh puluh kali tujuh kali. Ini bukan soal empat ratus sembilan puluh. Artinya sederhana: berhentilah menghitung.
Lalu Yesus bercerita tentang dua utang. Seorang hamba berutang sepuluh ribu talenta kepada rajanya. Mari kita hitung sebentar. Satu talenta setara ribuan hari upah pekerja. Sepuluh ribu talenta berarti utang yang baru lunas setelah ratusan ribu tahun bekerja. Angka yang sengaja dibuat mustahil. Dan raja itu, karena belas kasihan, menghapusnya. Dicoret. Lunas.
Keluar dari ruangan, hamba itu bertemu kawan yang berutang seratus dinar kepadanya. Kira-kira upah tiga bulan. Bukan jumlah kecil, tetapi bukan apa-apa dibanding yang baru saja dihapuskan baginya. Ia mencekik kawannya itu. Bayar utangmu!
Kita geram membaca kelakuannya, sampai sadar bahwa itu potret kita. Di hadapan Allah, buku utang kita berisi angka yang mustahil kita lunasi, dan setiap kali kita memohon ampun, Ia mencoretnya. Tetapi begitu keluar dari doa, kita mencekik orang yang bersalah kepada kita: menyimpan dendam bertahun-tahun untuk perkara seratus dinar.
Bin Sirakh, dua abad sebelum Kristus, sudah menulis dengan tajam: bagaimana orang dapat memohon penyembuhan pada Tuhan, jika ia menyimpan amarah kepada sesama manusia? Doa dan dendam tidak bisa tinggal serumah. Nasihatnya pun sangat praktis: ingatlah akan akhir hidup, dan hentikanlah permusuhan. Di hadapan maut, banyak perkara yang kita pertahankan mati-matian ternyata kecil.
Paulus menambahkan alasan yang paling dalam: baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Orang yang tahu dirinya milik Tuhan tidak perlu menyandera siapa-siapa. Mengampuni bukan berarti pura-pura tidak terluka. Mengampuni berarti menyerahkan perkara kepada Sang Pemilik hidup, lalu mencoret nama itu dari buku utang kita.
Nama siapa yang paling lama tertulis di buku utang hati kita?
Bapa, Engkau telah mencoret utangku yang mustahil kubayar. Berilah aku hati yang rela mencoret utang sesamaku, hari ini juga. Amin.