Kamis, 10 September 2026
Takaran yang Tumpah
Di pasar ada dua macam penjual beras. Yang pertama menakar dengan mistar: literan diratakan tepat di bibirnya, tidak lebih sebutir pun. Yang kedua mengisi takaran sambil menekan-nekan, menggoncang supaya padat, lalu menambah lagi sampai menggunung dan tumpah. Kepada penjual yang mana kita selalu kembali? Hati kecil kita sudah tahu jawabannya.
Kemarin kita mendengar sabda bahagia. Hari ini jalannya makin menanjak: kasihilah musuhmu, berdoalah bagi orang yang mencaci kamu, pinjamkan tanpa mengharap kembali. Lalu Yesus menutup dengan gambar pasar tadi: berilah dan kamu akan diberi, suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu.
Allah menakar seperti penjual yang royal itu. Pertanyaannya, kita menakar seperti siapa? Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, kata Yesus, akan diukurkan kepadamu.
Mengasihi orang yang mengasihi kita, itu matematika dagang. Orang berdosa pun sanggup. Anak-anak Bapa dipanggil memakai takaran Bapa: hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.
Hari ini, kepada siapa takaran kita bisa mulai tumpah?
Bapa yang murah hati, aku terlalu sering menakar dengan mistar. Ajarilah aku menakar sampai tumpah, seperti Engkau menakar bagiku. Amin.