Jumat, 4 September 2026
Jangan Buka Dulu
Ibu-ibu pembuat bolu kukus punya satu pantangan keras: jangan membuka tutup kukusan sebelum waktunya. Sekali diintip, kue yang sedang mekar langsung kempis. Padahal niatnya cuma ingin cepat tahu hasilnya.
Paulus memakai logika serupa untuk urusan yang jauh lebih serius: janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi apa yang tersembunyi dalam kegelapan dan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati.
Kemarin Paulus menegaskan bahwa kita adalah milik Kristus. Milik dinilai oleh pemiliknya, bukan oleh penonton. Tetapi kita gemar sekali mengintip lalu memvonis. Melihat sepotong kejadian, kita merasa sudah tahu seluruh cerita. Orang itu malas. Orang itu sombong. Padahal yang kita pegang baru kulitnya. Isi hati manusia hanya terang di hadapan Allah. Kita hanya melihat kelakuan; Allah melihat riwayat, luka, dan pergulatan di baliknya.
Bahkan Paulus tidak menghakimi dirinya sendiri. Kalimatnya rendah hati sekali: Dia yang menghakimi aku ialah Tuhan. Dan menariknya, ia menutup bukan dengan ancaman melainkan dengan harapan: tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.
Siapa yang pekan ini telanjur kita vonis setengah matang?
Tuhan, Engkau menilai dengan terang, aku menilai dengan remang. Tahanlah lidahku dari penghakiman yang bukan milikku. Amin.