Kamis, 3 September 2026
Ke Tempat yang Dalam
Nelayan paling tahu rasanya pulang kosong. Semalaman melempar jala, badan basah dan dingin, dan pagi-pagi perahu hanya berisi jala yang harus dicuci. Lalu datang seorang tukang kayu dari Nazaret dan berkata: bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu.
Aneh. Soal ikan, Simon jauh lebih ahli daripada Yesus. Tetapi jawabannya menjadi salah satu kalimat iman terindah: karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga. Hasilnya dua perahu hampir tenggelam oleh ikan.
Kemarin Yesus berkeliling memberitakan Injil dari kota ke kota. Hari ini Ia mulai memanggil rekan kerja. Gereja lama merangkum perintah-Nya dalam dua kata Latin: duc in altum, bertolaklah ke tempat yang dalam. Tempat dalam selalu menakutkan. Di pinggir kita masih bisa berdiri sendiri; di tempat dalam kita hanya bisa percaya.
Hari ini Gereja mengenang Santo Gregorius Agung. Ia pernah menjadi pejabat tinggi kota Roma, meninggalkan semuanya untuk hidup membiara, lalu dipaksa keadaan menjadi Paus. Ia menyebut dirinya servus servorum Dei, hamba para hamba Allah. Itulah tempat dalam versi hidupnya.
Di bagian mana hidup kita masih bermain di pinggir yang aman?
Tuhan, aku sering memilih air dangkal. Beranikan aku bertolak ke tempat yang dalam, karena Engkau yang menyuruh. Amin.