‹ Semua renungan

Senin, 31 Agustus 2026

Anak Si Tukang Kayu

Di kampung ada hukum tak tertulis yang aneh: paling sulit menghargai anak tetangga sendiri. Kalau ia sukses di rantau, orang berdecak kagum. Tapi begitu ia pulang dan berbicara, komentarnya lain: ah, itu kan anaknya si Anu, dulu sering main kelereng di sini. Seolah mengenal masa kecil seseorang memberi hak untuk meremehkannya.

Yesus mengalaminya di Nazaret. Ia membaca nubuat Yesaya di rumah ibadat, lalu berkata: pada hari ini genaplah nas ini. Mula-mula semua orang heran dan membenarkan Dia. Tapi hanya perlu satu kalimat untuk membalikkan suasana: bukankah Ia ini anak Yusuf? Dari kagum menjadi tersinggung, dari tersinggung menjadi marah, dari marah menjadi hendak melemparkan Dia dari tebing. Semua dalam satu jam ibadat.

Masalah orang Nazaret bukan kurang bukti, melainkan merasa sudah kenal. Yang sudah dikenal tidak lagi didengarkan. Kotak yang mereka buat untuk anak Yusuf tidak menyisakan ruang bagi Mesias.

Paulus dalam bacaan pertama memilih jalan sebaliknya: datang tanpa kata-kata indah, dalam kelemahan, supaya iman jemaat bergantung pada kekuatan Allah, bukan pada kesan manusia.

Jangan-jangan kita pun menyimpan Yesus dalam kotak: Yesus yang sudah kita hafal sejak sekolah minggu, yang tidak boleh mengejutkan kita lagi.

Tuhan, keluarkan Engkau dari kotak buatanku. Berbicaralah, aku mau mendengar dengan telinga baru. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →