Selasa, 1 September 2026
Suara yang Memulihkan
Di banyak rumah ada satu suara yang istimewa. Bukan yang paling keras. Ketika kakek angkat bicara di meja makan, semua orang diam. Anak-anak yang ramai pun menoleh. Suara itu tidak perlu berteriak. Ia punya wibawa. Wibawa lahir bukan dari volume, melainkan dari hidup yang sepadan dengan kata-katanya.
Kemarin kita mendengar Yesus ditolak di kampung-Nya sendiri, bahkan nyaris dilempar dari tebing. Hari ini di Kapernaum keadaannya terbalik. Orang-orang takjub, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Roh jahat pun tunduk pada satu kalimat pendek: diam, keluarlah dari padanya.
Ada satu catatan kecil Lukas yang mudah terlewat. Setan itu keluar dan sama sekali tidak menyakiti orang itu. Kuasa Yesus bukan kuasa yang meninggalkan luka. Kata yang berkuasa justru memulihkan.
Kita hidup dikelilingi suara keras setiap hari. Berapa banyak yang menyembuhkan? Kata-kata kita sendiri pun punya kuasa kecil. Bisa menghempaskan orang, bisa membangunkannya. Paulus berkata kepada jemaat Korintus, kita memiliki pikiran Kristus. Kalau pikiran-Nya ada pada kita, semestinya nada bicara-Nya juga ikut tinggal.
Hari ini, sebelum kalimat keluar dari mulut, sempatkan bertanya: ini menghempaskan atau memulihkan?
Tuhan Yesus, perkataan-Mu penuh kuasa dan penuh kasih. Jadikanlah kata-kataku hari ini alat pemulihan, bukan alat yang melukai. Amin.