Minggu, 30 Agustus 2026
Ikan Hidup Melawan Arus
Hanya ikan hidup yang bisa berenang melawan arus. Ikan mati pasti hanyut, mengikuti ke mana air membawa. Pepatah tua itu sederhana, tapi ia membelah dunia menjadi dua: yang hidup dan yang sekadar hanyut.
Minggu lalu kita mendengar Petrus di puncak imannya: Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup! Ia dipuji, diberi kunci, disebut batu karang. Injil hari ini melanjutkan adegan itu, dan betapa cepat cerita berbalik. Begitu Yesus menyatakan bahwa Ia harus menderita dan dibunuh di Yerusalem, Petrus menarik-Nya ke samping: Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Jawaban Yesus mungkin kalimat paling keras yang pernah diterima seorang murid: Enyahlah Iblis! Engkau batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.
Batu karang bisa menjadi batu sandungan dalam hitungan menit. Bedanya hanya satu: arah pikirannya. Petrus tidak berubah jahat. Ia hanya berpikir wajar, seperti semua orang: hindari penderitaan, cari selamat. Ia hanyut mengikuti arus akal sehat dunia. Dan justru kewajaran itulah yang disebut Yesus sebagai suara Iblis.
Paulus merumuskan tandingannya dalam bacaan kedua: janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu. Persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup. Persembahan yang hidup: bukan kurban yang mati sekali di mezbah, melainkan manusia yang setiap hari memilih melawan arus dengan seluruh hidupnya.
Melawan arus itu melelahkan. Yeremia jujur mengakuinya dalam bacaan pertama. Karena setia menyuarakan firman, ia menjadi tertawaan sepanjang hari. Ia sempat memutuskan berhenti: aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya. Tapi ia gagal berhenti. Dalam hatiku ada sesuatu seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah menahannya, tetapi aku tidak sanggup. Begitulah tanda orang yang sungguh disentuh Allah: bisa lelah, bisa mengeluh, tapi tidak bisa berhenti mencintai-Nya.
Kita hidup di tengah arus yang deras: arus cari aman, arus ikut-ikutan, arus menghindari salib dengan segala cara. Ikut hanyut selalu lebih mudah dan kelihatan lebih waras. Pertanyaan Minggu ini menguji tanda kehidupan kita: masihkah ada api dalam tulang? Masihkah kita sanggup berenang berlawanan arah, memikul salib, dan berani kehilangan nyawa untuk memperolehnya?
Tuhan, jangan biarkan aku hanyut. Nyalakan api-Mu dalam tulangku, dan jadikan hidupku persembahan yang hidup bagi-Mu. Amin.