‹ Semua renungan

Senin, 10 Agustus 2026

Logika Sawah

Petani adalah orang beriman yang paling nekat. Ia menggenggam benih terbaiknya, lalu justru membuangnya ke lumpur. Orang kota bisa geleng-geleng: gabah sebagus itu kok ditanam, bukan dimakan? Tapi petani tahu: benih yang disimpan hanya tetap segenggam. Benih yang ditabur pulang menjadi berkarung-karung.

Yesus memakai logika sawah itu untuk bicara tentang diri-Nya: jikalau biji gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, ia tetap satu biji saja. Tetapi jika ia mati, ia menghasilkan banyak buah.

Santo Laurensius, diakon Roma yang kita kenang hari ini, memahaminya dengan tubuhnya sendiri. Ketika penguasa menuntut harta Gereja diserahkan, ia mengumpulkan orang-orang miskin kota dan berkata: inilah harta Gereja. Ia dihukum bakar hidup-hidup. Kata martir memang berasal dari bahasa Yunani martys, artinya saksi. Laurensius tidak sekadar mati; ia bersaksi bahwa ada Kehidupan yang layak dibayar dengan hidup.

Paulus menambahkan nadanya yang riang: Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Yang menabur sedikit menuai sedikit; yang menabur banyak menuai banyak.

Kita mungkin tidak akan diminta menjadi martir. Tapi setiap hari kita ditanya hal yang sama: benih mana yang masih kita simpan rapat-rapat karena sayang?

Tuhan, ajari aku menabur diriku dengan sukacita, seperti Laurensius, saksi-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →