Minggu, 9 Agustus 2026
Angin Sepoi-Sepoi Basa
Waktu listrik padam di malam hari, kita baru sadar betapa bisingnya rumah kita. Kulkas ternyata berdengung. Pompa air menderu. Setelah semuanya mati, sunyi itu terasa asing, hampir menakutkan. Tapi justru dalam sunyi itu kita mendengar hal-hal yang selama ini tertutup: jangkrik di kebun, napas anak yang tidur, detak pikiran sendiri.
Elia sedang berada dalam sunyi semacam itu. Ia baru saja menang besar di gunung Karmel, lalu diancam dibunuh, lalu lari ketakutan sampai ke gunung Horeb. Nabi perkasa itu sedang habis. Di sana Tuhan menyuruhnya berdiri. Angin besar membelah gunung: Tuhan tidak ada di dalamnya. Gempa: tidak ada. Api: tidak ada. Lalu bunyi angin sepoi-sepoi basa. Dan Elia menyelubungi mukanya. Ia tahu: inilah Dia.
Aneh. Bukankah Allah sanggup tampil dalam gempa dan api? Sanggup. Tapi kali ini Ia memilih bisikan. Mungkin karena Elia sudah terlalu sering melihat yang dahsyat dan tetap saja tawar hatinya. Yang ia butuhkan bukan pertunjukan kuasa, melainkan kehadiran yang lembut.
Minggu lalu kita melihat Yesus memberi makan lima ribu orang. Injil hari ini melanjutkan malam itu juga. Murid-murid di tengah danau, diombang-ambingkan gelombang, angin sakal. Kira-kira jam tiga malam, jam ketika badan dan harapan sama-sama lelah, justru di situ Yesus datang, berjalan di atas air yang mereka takuti. 'Tenanglah! Aku ini, jangan takut.' Petrus sempat berjalan di atas air, lalu tenggelam ketika matanya berpindah dari Yesus ke angin. Doanya menjadi doa terpendek dalam Injil: Tuhan, tolonglah aku!
Dua kisah ini sebenarnya satu pelajaran. Allah jarang berteriak. Ia hadir dalam bisikan di Horeb dan dalam sapaan tenang di tengah badai. Masalahnya, hidup kita jarang menyediakan sunyi. Dari bangun sampai tidur, mata dan telinga kita terus diisi. Jangan-jangan bukan Tuhan yang diam, melainkan kita yang tidak pernah mematikan kebisingan.
Paulus, dalam bacaan kedua, memperlihatkan buah dari orang yang terbiasa mendengar Tuhan: hatinya melembut sampai rela terkutuk demi saudara-saudara sebangsanya. Kepekaan semacam itu tidak pernah lahir dari keramaian.
Pekan ini, beranikah kita memadamkan listrik batin barang sepuluh menit sehari? Duduk diam. Tanpa layar, tanpa suara. Siapa tahu, di sela sunyi itu terdengar bunyi angin sepoi-sepoi basa.
Tuhan, ajari aku diam, supaya bisikan-Mu tidak lewat begitu saja. Dan ketika aku mulai tenggelam, ulurkanlah tangan-Mu. Amin.