Jumat, 7 Agustus 2026
Kota yang Digembok Zaman
Di kota mana pun selalu ada bangunan seperti itu. Bekas toko besar yang dulu paling ramai, sekarang pintunya digembok, catnya mengelupas, papan namanya tinggal separuh. Orang lewat sambil berkata: dulu ini jaya sekali.
Nahum hari ini menubuatkan nasib serupa untuk Niniwe, ibu kota adikuasa zamannya. Kota penumpah darah, penuh perampasan, tidak henti-hentinya penerkaman. Kereta perangnya berkilat-kilat. Siapa berani menyentuhnya? Tapi firman itu tegas: 'Niniwe sudah rusak! Siapakah yang meratapi dia?' Kekuasaan yang dibangun di atas darah tidak pernah berusia panjang.
Injil memberi versi pribadinya. Yesus bertanya: apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Pertanyaan itu tidak butuh gelar teologi untuk dipahami. Semua orang bisa menghitung untung rugi. Yang sulit adalah jujur: berapa banyak nyawa kita yang sudah tergadai untuk hal-hal yang kelak hanya jadi bangunan kosong?
Menyangkal diri dan memikul salib terdengar seperti kerugian. Padahal justru itu satu-satunya milik yang tidak bisa digembok zaman. Kekayaan bisa dirampas, jabatan bisa dicopot, gedung bisa runtuh. Nyawa yang diserahkan kepada Kristus tidak bisa diambil siapa pun.
Apa yang sedang kita bangun hari-hari ini: Niniwe pribadi, atau hidup yang berani hilang demi Kristus?
Tuhan, jauhkan aku dari kemenangan yang membuat jiwaku kalah. Amin.