‹ Semua renungan

Kamis, 6 Agustus 2026

Jangan Dirikan Kemah Dulu

Orang rela mendaki semalaman demi matahari terbit di puncak. Anehnya, momen emas itu hanya beberapa menit. Setelah itu matahari meninggi, kabut naik, dan semua orang harus turun juga.

Petrus mengalami puncak yang jauh lebih dahsyat. Wajah Yesus bercahaya seperti matahari. Musa dan Elia hadir. Reaksinya sangat manusiawi: 'Betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Biarlah kudirikan tiga kemah.' Terjemahan bebasnya: jangan dulu turun. Mari menetap di sini.

Tetapi kemuliaan itu tidak diberikan untuk ditinggali. Ia diberikan untuk dibawa turun. Awan datang, dan suara Bapa berkata singkat: 'Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.' Bukan: dirikanlah kemah. Melainkan: dengarkanlah. Lalu mereka turun gunung, menuju jalan yang berujung di Yerusalem, di salib.

Daniel dalam bacaan pertama melihat ujungnya: Anak Manusia menerima kekuasaan kekal yang tidak akan lenyap. Itulah tujuan akhirnya. Tapi jalannya lewat lembah, bukan lewat kemah abadi di puncak.

Kita pun diberi saat-saat Tabor: retret yang menghangatkan, doa yang terasa manis, misa yang menggetarkan. Semua itu bekal, bukan tempat tinggal. Ujiannya selalu di bawah: di dapur, di kantor, di rumah yang riuh.

Tuhan, terima kasih untuk setiap Tabor kecil dalam hidupku. Kuatkan kakiku untuk turun dan mendengarkan Dia. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →