Rabu, 5 Agustus 2026
Iman Seorang Ibu
Perhatikanlah ibu-ibu di ruang tunggu rumah sakit. Mereka bisa berangkat subuh, antre berjam-jam, ditolak di loket satu lalu pindah ke loket lain. Demi anak, malu itu hilang. Demi anak, gengsi tidak ada harganya.
Perempuan Kanaan dalam Injil hari ini ibu semacam itu. Ia berteriak-teriak di jalan. Ia diabaikan. Murid-murid minta ia diusir. Jawaban Yesus pun terdengar dingin: roti anak-anak tidak patut dilemparkan kepada anjing. Kalimat itu bisa membuat siapa pun pulang sakit hati. Ibu ini tidak. 'Benar, Tuhan,' katanya, 'namun anjing pun makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.' Ia tidak menuntut satu meja. Ia percaya remah-Nya saja cukup untuk menyembuhkan anaknya. Dan Yesus kagum: 'Hai ibu, besar imanmu!'
Kemarin kita mendengar Tuhan berjanji memulihkan umat-Nya. Hari ini janji itu diberi wajah: 'Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal.' Kasih yang tidak habis stok, tidak memilih warga, tidak mengenal jam tutup.
Iman perempuan itu berdiri di atas dua kaki: cintanya pada anak dan keyakinannya pada kemurahan Tuhan. Kaki pertama umumnya kita punya. Beranikah kita pada yang kedua? Beranikah kita terus mengetuk, meski pintu tampak lama tidak dibuka?
Tuhan, beri aku iman yang tidak mundur karena jawaban yang tertunda. Amin.