‹ Semua renungan

Kamis, 30 Juli 2026

Di Rumah Tukang Periuk

Perhatikan pengrajin gerabah bekerja, orang Jawa menyebutnya kundhi. Tanah liat diputar di atas pelarikan, dibentuk pelan-pelan oleh dua telapak tangan. Kadang bejana yang hampir jadi itu penyok, miring, rusak. Apa yang dilakukannya? Ia tidak membuang tanah itu. Ia juga tidak marah. Diremasnya kembali, diputarnya lagi, dibentuknya dengan sabar menjadi bejana lain.

Justru ke bengkel sederhana itulah Yeremia disuruh pergi. Bukan ke bait suci, bukan ke istana. Di sana, di antara debu dan tanah basah, firman turun: seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku.

Kabar baiknya jelas: rusak bukan kata terakhir. Pabrik membuang produk gagal, tukang periuk tidak. Hidup yang penyok karena dosa dan kegagalan masih bisa dikerjakan kembali menjadi bejana lain, menurut apa yang baik pada pemandangan-Nya. Mungkin bentuknya berbeda dari rancangan kita. Tetapi tetap bejana, tetap berguna, tetap buatan tangan-Nya.

Hanya ada satu syarat: tanah liat harus tetap basah dan lentur. Tanah yang mengeras tidak bisa dibentuk lagi, hanya bisa pecah.

Bagian mana dari hidupku yang mulai mengeras dan menolak dibentuk?

Tuhan, Engkaulah tukang periukku. Aku tanah liat-Mu. Bentuklah aku kembali sesuka hati-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →