Selasa, 28 Juli 2026
Menunggu Hujan
Pada puncak kemarau, orang desa mulai sering menatap langit. Sumur mengering, sawah retak-retak, dan langit tetap terang tanpa janji. Segala usaha manusia mentok di satu titik: tidak ada yang bisa membuat hujan. Kita hanya bisa menunggu dan meminta.
Yeremia hari ini berdiri di titik itu. Negerinya luka parah. Di padang ada yang mati oleh pedang, di kota ada yang sakit kelaparan. Air matanya bercucuran siang dan malam. Lalu dari dasar keputusasaan itu naiklah pertanyaan yang menjadi pengakuan iman: dapatkah langit sendiri memberi hujan lebat? Bukankah hanya Engkau saja, ya Tuhan, Allah kami?
Perhatikan, doa Yeremia sama sekali tidak berpura-pura. Ia mengaku dosa bangsanya tanpa ditutup-tutupi. Tetapi ia juga berani menagih: ingatlah perjanjian-Mu dengan kami, janganlah membatalkannya! Doa yang jujur memang begitu: mengaku salah sambil berpegang pada kesetiaan Allah.
Kemarin kita mendengar Kerajaan Sorga bekerja seperti ragi yang senyap. Hari ini Yesus menjelaskan perumpamaan lalang: pada akhirnya orang benar akan bercahaya seperti matahari. Musim menuai pasti tiba, seperti hujan pasti turun.
Ketika langit hidupku lama terang tanpa jawaban, masihkah aku berdoa, atau diam-diam mulai mencari dewa kesia-siaan?
Tuhan, Pengharapan kami, dalam kemarau panjang ajarilah aku tetap menengadah kepada-Mu. Amin.