Rabu, 22 Juli 2026
Satu Nama, Satu Suara
Di pasar yang riuh, seorang ibu memanggil nama anaknya. Ratusan suara bersahutan, tetapi anak itu langsung menoleh. Bagaimana bisa? Sebab suara yang mengenal kita menembus segala keramaian. Nama kita di mulut orang yang mengasihi kita berbunyi lain.
Hari ini Gereja merayakan Santa Maria Magdalena. Bacaan pertama dari Kidung Agung seperti ditulis untuknya: kucari jantung hatiku, kucari tetapi tak kutemui dia. Maria persis begitu. Pagi buta ia sudah di kubur. Batu terguling, jenazah hilang. Ia bertanya kepada malaikat, bertanya kepada orang yang disangkanya penunggu taman. Matanya melihat Yesus berdiri di situ, tetapi tidak mengenali-Nya. Air mata memang bisa mengaburkan pandangan.
Lalu satu kata mengubah segalanya: Maria! Bukan penjelasan teologi. Bukan pembuktian panjang. Hanya namanya sendiri, diucapkan oleh Suara yang dikenalnya. Seketika ia berpaling: Rabuni!
Perempuan yang pernah dibebaskan dari tujuh setan ini menjadi saksi pertama kebangkitan. Gereja menyebutnya rasul para rasul, utusan bagi para utusan. Yang tekun mencari akhirnya ditemukan lebih dulu.
Tuhan yang bangkit masih memanggil nama, satu per satu. Persoalannya, hidup kita sering terlalu riuh. Kapan terakhir aku diam cukup lama sampai bisa mendengar namaku dipanggil?
Yesus, Guruku, panggillah namaku, dan buatlah aku berpaling kepada-Mu. Amin.