Selasa, 21 Juli 2026
Tanpa Pelampung Penanda
Kalau nelayan menjatuhkan sesuatu di laut dangkal, ia memasang pelampung penanda. Suatu saat barang itu bisa diambil lagi. Tetapi barang yang jatuh ke palung terdalam tidak diberi penanda. Semua tahu: yang jatuh ke sana tidak akan pernah dipungut kembali.
Kemarin kita mendengar Mikha merangkum seluruh tuntutan Tuhan dalam tiga hal: berlaku adil, mencintai kesetiaan, hidup rendah hati. Hari ini kitab itu ditutup dengan pujian yang menakjubkan: siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa? Dan inilah gambarnya: Ia melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.
Perhatikan, ke tubir laut. Bukan ke tepi pantai yang bisa terdampar lagi. Dan Allah tidak memasang pelampung penanda. Ia tidak berniat memancingnya kembali untuk diungkit-ungkit.
Kita sering sebaliknya. Kesalahan orang kita buang, tetapi koordinatnya kita catat rapi. Sewaktu-waktu bertengkar, kita menyelam dan mengangkatnya lagi. Bahkan dosa sendiri yang sudah diampuni pun masih kita pancingi terus dengan rasa bersalah.
Dalam Injil, Yesus menyebut siapa saja yang melakukan kehendak Bapa sebagai saudara dan ibu-Nya. Keluarga besar itu hanya mungkin bila kita belajar membuang tanpa penanda.
Kesalahan siapa yang masih kusimpan koordinatnya?
Allah pengampun, dosaku telah Kaubuang ke laut dalam. Ajari aku berhenti memancinginya kembali. Amin.