Minggu, 19 Juli 2026
Jangan Dicabut Dulu
Siapa pernah menyiangi kebun tahu godaan ini. Rumput liar tumbuh persis di sela tanaman cabai yang masih muda. Tangan gatal ingin mencabut. Tetapi cabutlah dengan tergesa, dan cabai muda itu ikut terangkat bersama akarnya. Petani yang baik menahan diri. Ia menunggu sampai akar cabai kuat dan rumpunnya jelas terbedakan. Ada waktunya sendiri.
Minggu lalu kita mendengar perumpamaan penabur: benih yang sama jatuh di tanah yang berbeda-beda. Hari ini Yesus masih mengajak kita ke ladang yang sama. Sekarang persoalannya bukan tanah, melainkan lalang yang ditabur musuh di antara gandum. Para hamba bersemangat: maukah tuan supaya kami mencabutnya? Jawaban sang tuan mengejutkan: jangan, sebab mungkin gandum ikut tercabut. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai.
Jawaban itu terasa lambat bagi kita yang ingin dunia bersih hari ini juga. Tetapi Kitab Kebijaksanaan membuka rahasianya: justru karena Allah berkuasa penuh, Ia mengadili dengan belas kasihan. Ia memberi kesempatan untuk bertobat. Kesabaran Allah bukan kelemahan. Kata sabar dalam bahasa Latin, patientia, berakar pada pati, menanggung. Sabar berarti kuat menanggung, bukan tutup mata.
Ada satu hal lagi yang sering kita lupa. Garis batas gandum dan lalang tidak membelah dunia menjadi kelompok kami dan kelompok mereka. Garis itu membelah hati setiap orang. Di dalam diriku sendiri gandum dan lalang tumbuh berdampingan. Kalau Allah mencabut semua lalang malam ini, siapa dari kita yang tersisa utuh?
Maka Paulus menghibur kita. Minggu lalu ia berbicara tentang seluruh ciptaan yang mengeluh seperti ibu yang hendak melahirkan. Hari ini keluhan itu naik satu tingkat: Roh sendiri berdoa untuk kita dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Ketika kita tidak tahu lagi bagaimana harus berdoa menghadapi lalang di dunia dan di hati sendiri, Roh mengambil alih.
Dan jangan lewatkan dua perumpamaan kecil di tengah: biji sesawi dan ragi. Kerajaan Allah tidak datang dengan operasi pembersihan besar-besaran. Ia bekerja seperti ragi dalam adonan: pelan, tersembunyi, tetapi pasti mengubah seluruhnya.
Pekan ini, siapa yang terlalu cepat kucap sebagai lalang? Anak yang bandel, rekan yang menyebalkan, saudara yang jauh dari gereja? Tuhan belum selesai dengan mereka. Ia juga belum selesai denganku.
Allah yang sabar, Engkau menanggung lalang demi menyelamatkan gandum. Berilah aku kesabaran-Mu terhadap sesamaku dan terhadap diriku sendiri. Amin.