‹ Semua renungan

Sabtu, 18 Juli 2026

Merawat Nyala Kecil

Di desa dulu ada lampu senthir, pelita minyak bersumbu kain. Ketika nyalanya tinggal setitik, orang tidak membuangnya. Sumbunya dinaikkan sedikit. Minyaknya ditambah. Angin ditutupi dengan telapak tangan. Nyala sekecil itu dijaga baik-baik, sebab dari dialah seisi rumah mendapat terang.

Matius hari ini mengutip Yesaya untuk melukiskan Yesus: buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya. Sementara orang Farisi bersekongkol membunuh Dia, Yesus menyingkir tanpa berbantah, tanpa berteriak, sambil terus menyembuhkan.

Bacaan pertama memperlihatkan kebalikannya. Mikha mengecam orang-orang yang merancang kejahatan di tempat tidurnya: menginginkan ladang lalu merampasnya, menindas orang dengan rumahnya. Begitulah cara dunia memperlakukan yang lemah: dipatahkan sekalian, dipadamkan sekalian.

Cara Allah lain sama sekali. Yang patah dibebat, yang redup dirawat. Bukankah kita semua pernah menjadi sumbu pudar itu? Iman tinggal setitik, semangat hampir habis, doa tinggal sisa-sisa. Dan Tuhan tidak meniup kita padam. Ia justru menambah minyak.

Maka pertanyaan hari ini sederhana saja. Siapa di rumahku, di lingkunganku, yang nyalanya tinggal setitik? Aku ini tangan yang menambah minyak, atau angin yang memadamkan?

Tuhan yang lembut, jadikan aku perawat nyala-nyala kecil di sekitarku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →