Jumat, 17 Juli 2026
Ambulans dan Lampu Merah
Di perempatan, sebuah ambulans menerobos lampu merah. Sirenenya meraung. Tidak ada polisi yang menilang. Tidak ada pengendara yang marah. Semua justru minggir memberi jalan. Kita paham tanpa perlu dijelaskan: aturan lalu lintas dibuat untuk menjaga nyawa. Ketika nyawa itu sendiri terancam, aturan harus memberi jalan.
Orang Farisi hari ini lupa hal sesederhana itu. Murid-murid yang lapar memetik bulir gandum pada hari Sabat, dan mereka langsung ribut soal pelanggaran. Yang mereka lihat hanya pasalnya, bukan orang lapar di depan mata. Yesus menjawab dengan satu kalimat yang menusuk: yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan.
Bacaan pertama memperlihatkan wajah Allah yang sama. Hizkia divonis mati, lalu ia menangis dan berdoa. Jawaban Tuhan bukan pasal dan ayat, melainkan: telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu. Allah kita bukan kitab undang-undang yang dingin. Ia mendengar tangisan, lalu memberi Hizkia lima belas tahun tambahan.
Kita pun bisa menjadi Farisi kecil di rumah dan di lingkungan. Tegas soal aturan, buta terhadap orang yang kelaparan di baliknya. Adakah aturan yang sedang kupakai untuk menghakimi, padahal ada nyawa yang butuh ditolong?
Tuhan atas hari Sabat, tanamkan dalam hatiku belas kasihan-Mu, melebihi segala persembahanku. Amin.