‹ Semua renungan

Minggu, 12 Juli 2026

Penabur yang Boros

Petani bisa gagal, hujan tidak pernah. Perhatikanlah: air yang turun dari langit tidak ada yang pulang dengan tangan hampa. Ia meresap ke akar, mengisi sumur, menyusup ke mata air, lalu suatu hari muncul kembali sebagai nasi di piring kita. Jalannya bisa berbelit dan lama, tetapi hujan selalu menyelesaikan tugasnya.

Yesaya memakai gambar itu untuk firman Allah: "Ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki." Kalimat ini layak dibaca pelan-pelan oleh siapa saja yang sedang lelah: orang tua yang doanya bagi anak seakan tidak berbalas, katekis yang murid-muridnya menghilang, siapa pun yang merasa menabur tanpa hasil. Firman itu seperti hujan. Ia sedang meresap, bukan sedang gagal.

Injil hari ini melukis sisi lain dari kisah yang sama. Seorang penabur keluar untuk menabur, dan cara menaburnya membuat petani mana pun geleng-geleng kepala. Boros sekali. Benih dihamburkan ke pinggir jalan, ke tanah berbatu, ke tengah semak duri. Petani yang waras hanya menabur di tanah yang baik. Tetapi penabur ini rupanya tidak sedang berhitung untung rugi. Ia memberi setiap jengkal tanah kesempatan yang sama. Bukankah memang begitu cara Allah memperlakukan kita selama ini?

Maka pertanyaan perumpamaan ini bukan "apakah firman itu manjur", melainkan "tanah macam apakah aku hari ini". Jalan yang keras terinjak-injak, tempat benih dipatuk burung. Tanah berbatu yang cepat bersemangat dan cepat layu. Semak duri, tempat firman terhimpit oleh kekuatiran dunia dan tipu daya kekayaan. Kita pernah menjadi ketiganya, kadang dalam satu minggu yang sama.

Kabar baiknya, tanah bukan nasib. Tanah bisa dicangkul, batunya bisa dipunguti, semaknya bisa dibabat. Minggu lalu Paulus mengingatkan kita untuk hidup oleh Roh; hari ini ia melukiskan seluruh ciptaan mengeluh seperti perempuan yang sakit bersalin, menantikan pembebasan. Keluhan itu bukan tanda kematian, melainkan tanda ada hidup yang sedang berjuang untuk lahir. Hati yang terasa keras dan penuh duri pun begitu: selama masih mau digarap, ia sedang menuju panen.

Dan panen yang dijanjikan tidak tanggung-tanggung: tiga puluh, enam puluh, seratus kali lipat. Dari sebutir benih yang sempat kita kira hilang.

Pekan ini, sudut hatiku yang mana yang paling perlu dicangkul, agar benih yang sudah lama tertabur akhirnya tumbuh?

Tuhan, firman-Mu adalah hujan dan hatiku tanahnya. Gemburkanlah aku, dan jangan pernah berhenti menabur. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →