Kamis, 9 Juli 2026
Dititah
Ada satu adegan yang selalu sama di setiap rumah: anak kecil belajar berjalan. Kedua tangannya dipegangi dari belakang, langkahnya diatur satu-satu. Orang Jawa menyebutnya dititah. Anak itu merasa dirinyalah yang berjalan. Ia tidak tahu bahwa seluruh beratnya sedang ditanggung tangan lain.
Bacaan hari ini memperlihatkan Allah dalam pose itu. "Akulah yang mengajar Efraim berjalan dan mengangkat mereka di tangan-Ku." Israel bertumbuh besar, lalu lupa. Merasa langkahnya milik sendiri, ia berjalan makin jauh dari Dia yang dulu memeganginya. Kita pun begitu. Makin mampu, makin jarang menoleh.
Yang mengharukan, Allah tidak membalas dengan melepas tangan. Dengarlah pergulatan-Nya: "Masakan Aku membiarkan engkau, hai Efraim? Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku." Lalu alasan yang hanya bisa diucapkan-Nya sendiri: "Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia." Manusia menyerah pada yang mengecewakan. Allah tidak.
Dalam Injil, kedua belas murid yang kemarin dipanggil namanya kini diberangkatkan tanpa emas, tanpa bekal, tanpa baju ganti. Berani, sebab mereka tahu: Bapa yang mengajari anak-Nya berjalan tidak pernah sungguh melepas tangan.
Kapan terakhir kali aku menoleh dan berterima kasih kepada Tangan yang menitah langkahku?
Bapa, seluruh beratku ada di tangan-Mu. Ajarilah aku melangkah tanpa lupa menoleh. Amin.