‹ Semua renungan

Minggu, 5 Juli 2026

Kuk untuk Berdua

Di ladang, kuk adalah kayu lengkung yang dipasang pada tengkuk sapi untuk menarik bajak. Satu hal sering luput dari perhatian: kuk hampir selalu dibuat untuk sepasang. Dua leher, satu kayu, satu arah. Sapi muda yang belum terlatih sengaja dipasangkan dengan sapi tua yang tenang, supaya belajar melangkah tanpa panik.

Dengan gambar itulah Yesus menutup Injil hari ini. "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat." Lalu menyusul kalimat yang mengejutkan: "Pikullah kuk yang Kupasang." Aneh, bukan? Orang yang sudah kelelahan malah ditawari kuk. Kita menyangka istirahat berarti lepas dari segala beban. Yesus menawarkan yang lain: beban yang tepat, dipikul bersama Dia. Kuk itu enak, kata-Nya, sebab Ia sendiri yang mengukurnya, dan Ia sendiri berjalan di sisi satunya. Tukang kayu dari Nazaret tentu tahu benar cara memahat kuk yang tidak melukai tengkuk. Ia bukan mandor yang menonton dari pinggir ladang. Ia rekan satu kuk.

Banyak kelelahan kita sesungguhnya bukan karena bekerja, melainkan karena memikul sendirian. Lelah menjaga gengsi. Lelah berpura-pura kuat. Lelah menarik hidup ke arah yang kita tentukan sendiri, sementara Allah kita tinggalkan di belakang. Itulah yang oleh Paulus disebut hidup menurut daging: hidup yang seluruh tarikannya bertumpu pada otot sendiri. Hidup menurut Roh bukan hidup tanpa beban, melainkan hidup yang tarikannya dibagi dengan Allah.

Bacaan pertama memperlihatkan wajah Allah yang sama. Zakharia mengabarkan raja yang datang bukan dengan kuda perang, melainkan dengan keledai beban yang muda. Raja-raja dunia menunggang kuda supaya tampak tinggi. Raja ini memilih hewan pemikul, sebab memang itulah maksud kedatangan-Nya: memikul. Pantaslah Yesus bersyukur karena semuanya ini dinyatakan kepada orang kecil, bukan kepada orang bijak dan pandai. Orang pandai sibuk membuktikan diri kuat. Orang kecil tahu rasanya berbeban, maka tahu pula nikmatnya ada yang ikut memikul.

Lemah lembut dan rendah hati. Hanya di sinilah Yesus melukiskan hati-Nya sendiri, dan dua kata itulah yang dipilih-Nya. Bukan perkasa. Bukan cemerlang. Belajarlah pada-Ku, kata-Nya. Barangkali pelajaran pertamanya sederhana saja: berhenti menarik sendirian.

Pekan ini, beban apa yang selama ini kupikul dengan rahang terkatup, padahal sudah lama Yesus menawarkan diri memikulnya berdua?

Tuhan Yesus, aku letih oleh beban yang kupilih pikul sendirian. Pasanglah kuk-Mu pada tengkukku dan berjalanlah di sisiku, sampai jiwaku menemukan ketenangan. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →