‹ Semua renungan

Senin, 6 Juli 2026

Menjamah, Bukan Menyenggol

Pernahkah Anda berjalan di pasar menjelang hari raya? Bahu bersenggolan, tangan bersentuhan, tanpa ada yang saling mengenal. Sentuhan bisa terjadi ratusan kali sehari dan tidak berarti apa-apa.

Hari itu Yesus juga berdesakan di tengah orang banyak. Pasti banyak yang menyenggol-Nya. Tetapi hanya satu yang menjamah. Perempuan itu dua belas tahun menderita pendarahan. Menurut hukum, ia najis; sentuhannya menajiskan. Maka ia mendekat dari belakang, diam-diam, hanya berani menyentuh jumbai jubah. Dan dari sekian ratus senggolan hari itu, yang satu ini dikenali Yesus. Ia berpaling, memandang, lalu memanggilnya dengan sebutan yang pasti sudah lama tidak didengarnya: anak-Ku.

Apa bedanya menyenggol dan menjamah? Iman. Senggolan itu kebetulan, jamahan itu keputusan hati yang berharap. Dan harapan sekecil ujung jari itu pun dijawab: "Imanmu telah menyelamatkan engkau."

Bacaan pertama memakai bahasa yang lebih mesra lagi. Allah ingin dipanggil bukan Baalku, majikan yang dibayar dengan sesajen, melainkan Suamiku. Allah tidak mau disenggol lewat ritual tanpa hati. Ia mau dijamah dalam relasi yang hidup.

Doa-doaku selama ini masuk golongan mana: senggolan yang lewat begitu saja, atau jamahan yang sungguh berharap?

Tuhan, di tengah desakan hariku, kuulurkan tangan menjamah-Mu. Palingkanlah wajah-Mu dan sebutlah aku anak-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →