Jumat, 26 Juni 2026
Aku Mau
Penderita kusta pada zaman itu kehilangan lebih dari kesehatannya. Ia wajib tinggal di luar perkampungan, berteriak najis kalau ada yang mendekat. Bertahun-tahun tanpa jabat tangan, tanpa rangkulan. Tubuhnya sakit, tapi yang paling perih mungkin sepinya.
Orang seperti itulah yang menerobos kerumunan dan sujud di depan Yesus. Kalimatnya halus dan penuh iman: Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku. Ia tidak menuntut. Ia menyerahkan keputusan sepenuhnya: jika Tuan mau.
Jawaban Yesus hanya dua kata: Aku mau. Tapi sebelum kata itu keluar, Injil mencatat sesuatu yang lebih dahsyat: Yesus mengulurkan tangan-Nya dan menjamah orang itu. Menjamah orang kusta! Padahal sepatah kata saja cukup untuk menyembuhkan. Yesus tahu, orang itu butuh lebih dari kesembuhan kulit. Ia butuh disentuh kembali sebagai manusia.
Di sekitar kita ada orang-orang yang tidak berpenyakit kusta tapi diperlakukan seperti penderitanya: dijauhi karena masa lalunya, karena statusnya, karena keluarganya pernah tersandung perkara. Mereka tidak selalu butuh ceramah. Kadang yang paling menyembuhkan adalah disapa, diajak duduk, dijabat tangannya.
Siapa yang selama ini kita hindari, bahkan sekadar untuk disapa?
Tuhan, Engkau tidak jijik menjamahku dengan segala kustaku. Jadikanlah tanganku perpanjangan tangan-Mu bagi mereka yang lama tak tersentuh. Amin.