‹ Semua renungan

Minggu, 21 Juni 2026

Seharga Burung Pipit

Di pasar burung, pipit hampir tidak ada harganya. Terlalu kecil untuk dimasak, terlalu biasa untuk dipelihara suaranya. Pada zaman Yesus pun begitu: dua ekor dijual seduit. Burung paling murah yang bisa dibeli uang paling receh.

Justru burung itulah yang dipilih Yesus untuk berbicara tentang takut. Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun tidak jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Lalu kalimat yang nyaris berlebihan kalau bukan Yesus yang mengucapkannya: dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Bukan sekadar dihitung jumlahnya. Terhitung satu per satu, seperti barang berharga yang dicatat pemiliknya.

Minggu lalu kita mendengar dua belas nama diutus ke tuaian. Hari ini Yesus membekali mereka untuk medan yang sesungguhnya, dan bekalnya satu kalimat yang diulang tiga kali: jangan takut. Ia tidak berjanji semua akan aman. Justru Ia bicara tentang orang yang dapat membunuh tubuh. Ancaman itu nyata. Tapi takut, kata-Nya, jangan.

Yeremia dalam bacaan pertama merasakan medan itu. Sahabat-sahabat karibnya mengintai kejatuhannya, bisikan datang dari segala jurusan. Doanya tidak manis, penuh gejolak. Tapi di tengahnya ada pegangan yang membuatnya bertahan: TUHAN menyertai aku seperti pahlawan yang gagah. Yeremia takut, lalu memilih percaya. Keberanian memang bukan hilangnya rasa takut, melainkan takut yang diserahkan.

Dan mengapa kita boleh seyakin itu? Paulus dalam bacaan kedua menimbang: jika karena pelanggaran satu orang maut menjalar kepada semua orang, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dalam Yesus Kristus. Jauh lebih besar. Neraca Allah selalu berat ke sisi rahmat.

Ketakutan zaman kita mungkin bukan penjara atau pedang. Bentuknya lebih halus: takut kehilangan pekerjaan kalau jujur, takut dijauhi kalau berbeda, takut dicibir kalau menyebut nama Yesus di ruang umum. Maka sabda ini tetap segar: apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah dalam terang. Iman bukan barang simpanan di lemari. Ia harus naik ke atas atap.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku. Bayangkan kalimat itu sungguh terjadi atas kita.

Di hadapan siapa kita paling sering menyembunyikan iman kita?

Bapa, Engkau menghitung rambut di kepalaku. Usirlah takutku, dan berilah aku lidah yang berani mengakui Anak-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →