Rabu, 10 Juni 2026
Kaki di Dua Sampan
Orang tua di pesisir punya nasihat sederhana: jangan berdiri dengan satu kaki di masing-masing sampan. Selama air tenang mungkin aman. Begitu ombak datang, orang itu jatuh ke air, bukan ke salah satu sampan.
Di gunung Karmel, Elia menantang umat Israel dengan pertanyaan serupa: berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia. Kalau Baal, ikutilah dia. Rakyat tidak menjawab sepatah kata pun. Mereka memang tidak menolak TUHAN. Mereka hanya menambahkan Baal, sekadar jaga-jaga. Satu kaki di tiap sampan.
Lalu digelarlah pertandingan yang termasyhur itu. Empat ratus lima puluh nabi Baal berseru dari pagi sampai petang, menoreh diri hingga berdarah. Tidak ada suara. Elia berdoa satu kali, singkat dan tenang. Api turun menyambar habis kurban, kayu, batu, bahkan air di parit. Rakyat sujud: TUHAN, Dialah Allah!
Baal zaman kita jarang berbentuk patung. Ia bisa berupa uang yang kita andalkan melebihi Tuhan, jimat yang disimpan diam-diam, atau kuasa yang kita takuti melebihi takut akan Allah.
Di sampan mana kaki kita berdiri hari ini?
Tuhan, satukanlah hatiku yang bercabang. Engkau saja Allahku, tidak ada yang lain. Amin.