‹ Semua renungan

Selasa, 9 Juni 2026

Segenggam Tepung

Segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Itulah seluruh isi dapur janda di Sarfat. Rencananya sudah bulat: memasak roti terakhir, memakannya bersama anaknya, lalu menunggu mati.

Kemarin kita mendengar Elia diberi makan burung gagak di tepi sungai Kerit. Ketika sungai itu kering, Tuhan mengirimnya ke Sarfat, kepada janda tadi. Dan permintaan Elia terdengar hampir kejam: buatlah dahulu bagiku sepotong roti kecil, barulah bagimu dan anakmu.

Anehnya, perempuan itu menurut. Ia memberi dari titik paling habis dalam hidupnya. Dan mukjizat terjadi justru di situ: tepung tidak habis, minyak tidak berkurang, sampai hujan turun kembali.

Perhatikan urutannya. Tepung tidak dilipatgandakan dulu supaya ia berani memberi. Ia memberi dulu, baru tepung itu tidak habis-habis. Iman memang selalu bergerak dengan urutan yang membuat akal gugup.

Dalam Injil, Yesus menyebut kita garam dunia. Garam tidak pernah banyak. Sejumput saja, tapi seluruh masakan berubah rasa. Janda Sarfat adalah sejumput garam itu: pemberian kecil dari orang kecil yang terus dikenang ribuan tahun.

Kita menunggu berkelimpahan dulu baru memberi, atau berani memberi dari kekurangan?

Tuhan, tepungku sering tinggal segenggam. Beranikan aku membaginya, dan biarlah Engkau yang menjaga tempayanku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →