Minggu, 7 Juni 2026
Meja yang Terbuka
Di rumah kita, meja makan adalah perabot yang paling jujur. Tamu biasa diterima di ruang depan. Tapi yang diajak makan semeja hanyalah orang yang sungguh diterima. Duduk makan bersama artinya: engkau bagian dari kami.
Karena itulah orang Farisi gempar. Yesus makan di rumah Matius, pemungut cukai. Semeja dengan para penarik pajak dan orang berdosa. Di mata mereka, Yesus salah memilih meja. Jawaban Yesus tenang dan tajam: bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Lalu Ia mengutip Hosea, nabi yang kita dengar dalam bacaan pertama: yang Kukehendaki ialah belas kasihan, bukan persembahan.
Hosea dulu berbicara kepada umat yang rajin beribadah tetapi kasih setianya seperti kabut pagi. Datang sebentar, hilang sebelum siang. Kurban jalan terus, hati tidak ikut. Allah rupanya jemu dengan persembahan yang tidak membawa serta si pemberi.
Hari ini kita merayakan Tubuh dan Darah Kristus, dan perayaan ini sesungguhnya perayaan meja. Allah yang dahulu disembah dengan kurban bakaran kini memilih cara yang tak terbayangkan: Ia sendiri naik ke meja. Bukan lagi kita yang menyediakan persembahan bagi Allah, melainkan Allah yang menjadikan diri-Nya santapan bagi kita. Roti dipecah, anggur dituang. Ambillah, makanlah.
Coba renungkan pelan-pelan. Siapa yang layak duduk di meja itu? Kalau syaratnya kesucian, meja itu kosong selamanya. Yang datang ke Ekaristi adalah barisan orang sakit yang mencari Tabib. Persis seperti suasana rumah Matius. Maka jangan heran bila di gereja kita bersebelahan dengan orang yang kita anggap tidak pantas. Meja ini memang bukan meja orang benar.
Abraham dalam bacaan kedua disebut percaya walau tidak ada dasar untuk berharap. Tubuhnya sudah sangat lemah, rahim Sara tertutup, tapi ia berpegang pada janji. Iman Ekaristi juga begitu. Mata hanya melihat roti sepotong. Janji-Nya berkata: inilah Tubuh-Ku. Kita datang bukan karena mengerti sepenuhnya, melainkan karena percaya kepada Dia yang berjanji.
Sesudah Misa, meja itu seharusnya berlanjut ke rumah. Sebab aneh kalau kita menyambut Tuhan yang mau semeja dengan pendosa, lalu di rumah dan di lingkungan kita pilih-pilih teman semeja. Belas kasihan, bukan persembahan. Meja, bukan pagar.
Siapa yang selama ini tidak pernah kita ajak duduk semeja?
Tuhan Yesus, Engkau menjadikan diri-Mu roti bagiku. Jadikanlah hidupku meja yang terbuka bagi sesamaku. Amin.