Sabtu, 6 Juni 2026
Dua Keping Receh
Di dasar tas belanja ibu sering ada uang logam. Lima ratusan kusam, dua ratusan tipis. Uang yang di tempat parkir pun kadang ditolak. Recehan, kata kita. Nilainya nyaris bukan nilai.
Yesus duduk menghadap peti persembahan Bait Allah dan memperhatikan. Ini kebiasaan-Nya yang mengejutkan: Ia memperhatikan cara orang memberi, bukan jumlahnya. Orang kaya datang, memasukkan banyak. Lalu seorang janda miskin memasukkan dua peser. Recehan. Bunyinya pun mungkin tak terdengar.
Tapi Yesus memanggil para murid, seperti hendak mengumumkan penemuan besar: janda ini memberi lebih banyak dari semua orang. Sebab yang lain memberi dari kelimpahan, ia memberi dari kekurangan. Seluruh nafkahnya.
Matematika Kerajaan Allah memang terbalik. Yang dihitung bukan yang keluar dari dompet, melainkan yang tersisa di dalamnya. Janda itu tidak menyisakan apa-apa, maka nilainya tak terhingga.
Dalam bacaan pertama, Paulus yang sudah tua menulis: darahku sudah mulai dicurahkan, aku telah mencapai garis akhir. Ia pun memberi seperti janda itu. Bukan sebagian. Semuanya.
Kita tak selalu bisa memberi banyak. Tapi kita selalu bisa memberi sungguh-sungguh. Adakah yang masih kita tahan hari ini?
Tuhan, ajarilah aku memberi seperti janda itu: kecil di mata orang, utuh di mata-Mu. Amin.