Selasa, 26 Mei 2026
Seratus Kali Lipat, Ada Penganiayaannya
Petrus menyuarakan yang mungkin diam-diam kita pikirkan juga: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!" Ada nada berharap di situ. Sudah berkorban, lalu apa imbalannya?
Yesus tidak menghardik pertanyaan itu. Ia menjawab dengan janji besar: siapa meninggalkan rumah, saudara, ibu, anak, ladang karena Injil, akan menerima "seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang." Bukan nanti di surga saja, tetapi "sekarang pada masa ini juga." Yang melepas satu keluarga darah menerima keluarga besar seiman.
Tapi ada sisipan jujur yang sering kita lewatkan: "sekalipun disertai berbagai penganiayaan." Yesus tidak menjual janji tanpa syarat. Hidup seratus kali lipat itu tetap datang dengan salib menempel. Berkat dan penganiayaan sepaket, bukan pilih salah satu.
Menariknya, orang kudus yang kita kenang hari ini, Filipus Neri, menjalani justru versi cerianya. Di Roma ia mengumpulkan anak-anak jalanan, orang buangan, siapa saja, menjadikan mereka keluarga. Rumahnya penuh tawa dan doa sekaligus. Ia membuktikan bahwa keluarga seratus kali lipat itu nyata, dan bisa gembira di tengah kesukaran.
Petrus dalam bacaan pertama menutup: "hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu." Kudus tidak berarti murung. Filipus Neri kudus sambil bercanda.
Keluarga besar iman yang mana yang sudah Tuhan berikan sebagai ganti apa yang kita lepaskan?
Tuhan, Engkau tak pernah berutang pada siapa pun. Berilah aku sukacita Filipus di tengah salib yang menyertai panggilan. Amin.