Rabu, 27 Mei 2026
Minta Kursi di Saat yang Keliru
Ada saat yang tidak tepat untuk membicarakan sesuatu. Menanyakan pembagian warisan saat jenazah belum dikubur, misalnya. Salah waktu bisa membongkar isi hati yang sebenarnya.
Yesus baru saja untuk ketiga kalinya menubuatkan sengsara-Nya: akan diserahkan, diolok, diludahi, dibunuh. Suasananya berat. Justru di situ Yakobus dan Yohanes maju: "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu." Guru bicara salib, murid memikirkan kursi.
Kita mudah menghakimi mereka, padahal sering begitu juga. Di tengah kesulitan bersama, pikiran kita diam-diam menghitung: nanti aku dapat posisi apa, namaku disebut tidak. Ambisi punya cara buruk untuk muncul di saat yang paling tidak pantas.
Yesus tidak marah. Ia membalik seluruh ukuran: "Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu." Kursi tertinggi dalam Kerajaan bukan takhta, melainkan tempat membasuh kaki. "Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya." Orang tua Jawa merumuskannya dengan pas: sepi ing pamrih, rame ing gawe, sepi dari pamrih, rajin dalam kerja.
Petrus mengingatkan dari bacaan pertama: kita ditebus bukan dengan emas, melainkan dengan darah Kristus yang mahal. Harga kita dibayar oleh Dia yang memilih melayani. Aneh bila yang ditebus dengan pelayanan malah berebut untuk dilayani.
Di tengah kesulitan bersama, apakah pikiran kita diam-diam sedang menghitung kursi?
Tuhan, Engkau memilih melayani sampai wafat. Sembuhkanlah hatiku dari rebutan kursi, dan ajarilah aku membasuh kaki. Amin.