Senin, 25 Mei 2026
Satu yang Masih Kurang
Aneh rasanya bila seseorang yang sudah punya banyak justru pergi dengan sedih. Tapi begitulah orang muda kaya itu. Ia datang berlari, bertelut, penuh semangat bertanya soal hidup kekal. Sudah menjalankan semua perintah sejak muda. Nyaris sempurna.
Yesus memandangnya "dan menaruh kasih kepadanya." Lalu berkata dengan lembut: "Hanya satu lagi kekuranganmu." Satu saja. Juallah milikmu, berikan kepada yang miskin, lalu ikutlah Aku. Mendengar itu, wajahnya berubah, dan ia pergi. "Sebab banyak hartanya."
Perhatikan letak masalahnya. Bukan pada banyaknya harta, melainkan pada tangannya yang tak bisa terbuka. Ia memegang begitu erat sampai tak ada ruang lagi untuk memegang tangan Yesus. Untuk mengikut, tangan harus kosong dulu.
Para murid tercengang: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?" Jawaban Yesus melegakan: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah." Melepaskan genggaman memang di luar kemampuan kita sendiri. Itu karya rahmat.
Hari ini kita mengenang Maria sebagai Bunda Gereja, dan ia justru kebalikan orang muda tadi. Ketika diminta menyerahkan hidupnya, tangannya terbuka: "Terjadilah padaku menurut perkataanmu." Petrus dalam bacaan pertama menyebut iman yang teruji lebih berharga dari emas. Emas digenggam; iman diserahkan.
Satu hal apa yang masih kita genggam terlalu erat, sampai tak sempat memegang tangan Tuhan?
Tuhan, bukalah genggamanku pada yang kukira milikku. Berilah aku tangan yang terbuka seperti Maria. Amin.