‹ Semua renungan

Minggu, 24 Mei 2026

Setiap Orang Mendengar dengan Bahasanya

Di pasar besar, telinga kita dibanjiri berbagai logat. Jawa, Batak, Sunda, Tionghoa, Arab, campur aduk. Biasanya keramaian bahasa justru membuat orang sulit saling paham. Masing-masing sibuk dengan lidahnya sendiri.

Pada hari Pentakosta terjadi kebalikannya. Roh turun seperti tiupan angin keras dan lidah-lidah api, lalu para rasul berbicara, dan setiap orang dari bangsa yang berbeda mendengar "dalam bahasa mereka sendiri". Partia, Media, Elam, Mesir, Roma. Bukan semua dipaksa memakai satu bahasa. Justru satu kabar terdengar sampai ke telinga masing-masing dalam bahasa hati mereka.

Alkitab pernah mencatat kisah sebaliknya, di menara Babel, ketika manusia yang sombong dibuat berpencar karena bahasa mereka dikacaukan. Pentakosta memulihkan luka itu. Roh Kudus tidak menyeragamkan; Ia menyatukan tanpa menghapus perbedaan. Bersatu dalam iman tidak berarti semua menjadi sama. Menara Babel roboh karena keseragaman yang dipaksakan dari bawah; Gereja berdiri karena kesatuan yang diberikan dari atas dan justru menghargai perbedaan.

Paulus menjelaskannya dengan gambar tubuh: "sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak... demikian pula Kristus." Tangan tidak perlu menjadi mata untuk berguna. "Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh." Keberagaman itu justru rancangan, bukan gangguan.

Orang banyak yang mendengar "tercengang-cengang dan heran". Mukjizat pertama Roh Kudus bukan gedung megah atau kuasa yang menakutkan, melainkan komunikasi: orang-orang yang tadinya terpisah tiba-tiba saling mengerti. Roh selalu bekerja ke arah itu, merapatkan yang renggang. Di zaman kita, ketika perbedaan gampang dipakai untuk memecah, karunia Pentakosta justru menjadi lebih mendesak. Satu paroki bisa penuh beragam watak, latar, dan kepentingan, tetapi dipanggil menjadi satu tubuh. Itu bukan hasil usaha manusia menyeragamkan semua, melainkan buah Roh yang menyatukan tanpa meratakan.

Dalam Injil, Roh diberikan dengan cara yang lembut. Yesus mengembusi murid-murid: "Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni." Napas Roh yang pertama diarahkan untuk mengampuni. Sebab tubuh yang beragam ini hanya bisa tetap satu bila anggota-anggotanya saling mengampuni.

Maka Pentakosta bukan sekadar peristiwa lama. Ia doa yang perlu kita ulang: agar Gereja yang penuh perbedaan, suku, bahasa, watak, tetap menjadi satu tubuh yang bernapas dengan satu Roh.

Perbedaan mana di sekitar kita yang kita anggap gangguan, padahal bisa menjadi kekayaan satu tubuh?

Roh Kudus, turunlah kembali. Satukanlah kami yang berbeda-beda menjadi satu tubuh, dan ajarilah kami saling mengampuni. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →