Selasa, 5 Mei 2026
Bangun lalu Masuk Lagi
Kalau kita terjatuh di depan umum, tersandung di pasar misalnya, naluri pertama biasanya bukan bangun, melainkan malu. Ingin cepat menghilang. Apalagi kalau yang menjatuhkan bukan batu di jalan, melainkan tangan orang.
Paulus dilempari batu di Listra sampai dikira mati, lalu diseret ke luar kota seperti bangkai. Kota yang beberapa hari lalu mau menyembahnya kini membuangnya. Tapi lihat ayat berikutnya: "ketika murid-murid itu berdiri mengelilingi dia, bangkitlah ia lalu masuk ke dalam kota." Masuk lagi. Ke kota yang sama, ke tempat ia baru saja hampir dibunuh.
Ada keberanian yang tenang di sana. Bukan nekat, bukan pula balas dendam. Keesokan harinya ia melanjutkan perjalanan, dan di kota-kota berikutnya ia justru menguatkan hati murid-murid dengan kalimat yang tidak dihaluskan: "untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara."
Ia tidak menjanjikan iman yang mulus. Ia sendiri baru saja babak belur. Justru dari mulut orang yang masih membawa memar itulah kalimat penghiburan terdengar sungguh-sungguh. Penghibur yang tak pernah terluka gampang dicurigai.
Kita sering ingin pulih dulu, baru melayani. Paulus membalik urutannya: melayani sambil memar, menguatkan orang lain sambil sendiri masih sakit.
Adakah "kota" yang kita hindari karena pernah melukai kita di sana?
Tuhan, ketika aku terjatuh, angkatlah aku untuk bangun dan masuk lagi. Amin.