Rabu, 6 Mei 2026
Yang Berbuah pun Dipangkas
Orang yang baru belajar berkebun sering heran melihat tukang kebun berpengalaman. Ranting yang sedang subur, berdaun lebat, malah dipotongnya. Sayang sekali, pikir kita. Padahal justru ranting yang dibiarkan liar akan sibuk menumbuhkan daun dan lupa berbuah.
Yesus tahu ini. "Setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah." Perhatikan: yang dipangkas bukan hanya ranting kering. Yang berbuah pun kena pisau. Bukan hukuman, melainkan perawatan.
Ini menjelaskan sesuatu yang sering membingungkan. Mengapa orang yang sudah baik, sudah rajin berdoa, masih saja diberi salib? Bukankah pemangkasan itu untuk pendosa? Ternyata tidak. Tuhan justru memangkas yang subur, karena Ia melihat kemungkinan buah yang lebih banyak di sana.
Kata "dibersihkan" dan "bersih" pada ayat berikutnya keluar dari akar yang sama. Pemangkasan itu penyucian. Yang dibuang bukan kita, melainkan yang berlebih pada kita: kesibukan yang tak perlu, kemelekatan, daun-daun yang cuma bikin rimbun tapi tak berbuah.
Syaratnya satu: tinggal pada pokok. Ranting yang lepas dari batang tidak bisa berbuah, sesubur apa pun kelihatannya.
Bagian mana dari hidupku yang sedang dipangkas Tuhan, dan apakah aku melawannya?
Tuhan, pisau-Mu terasa perih, tetapi Engkau tukang kebun yang menyayangi. Pangkaslah aku supaya berbuah. Amin.