‹ Semua renungan

Minggu, 3 Mei 2026

Yang Diterima, Diteruskan

Setiap keluarga punya satu resep yang tak pernah ditulis. Bumbu opor nenek, takaran garam yang cuma diketahui lewat ujung jari. Diwariskan dari tangan ke tangan, dari dapur ke dapur. Sekali mata rantai putus, rasa itu hilang selamanya.

Paulus hari ini memakai bahasa pewarisan itu. "Yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri." Ia tidak mengarang Injil. Ia menerimanya, lalu meneruskannya. Dua kata kerja yang menjadi tulang punggung iman kita: menerima dan meneruskan.

Lalu ia menyebut daftar saksi seperti orang menyebut mata rantai: Kefas, kedua belas murid, lima ratus orang sekaligus, Yakobus, semua rasul. Dan yang paling akhir, dirinya sendiri, "seperti anak yang lahir sebelum waktunya." Paulus tahu ia mata rantai yang paling tak layak, bekas penganiaya. Tapi rahmat tidak memilih yang pantas; ia memilih yang mau meneruskan.

Menariknya, isi warisan itu bukan gagasan, melainkan peristiwa: Kristus mati, dikuburkan, dibangkitkan pada hari ketiga. Iman Kristen bukan filsafat yang bisa ditemukan sendiri di kamar dengan merenung. Ia kabar yang harus ada orang menyampaikannya kepada kita. Selalu ada tangan sebelum tangan kita.

Dalam Injil, Yesus berkata "Akulah jalan." Jalan itu pun sampai kepada kita karena ditunjukkan orang lain: orang tua yang mengajak ke gereja, guru agama, katekis di kampung, teman yang menuntun kita kembali. Kita percaya hari ini karena ada mata rantai yang tidak putus selama dua ribu tahun.

Paulus juga menyelipkan peringatan halus di awal: Injil ini menyelamatkan, "asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu, kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya." Warisan bisa disia-siakan. Resep yang dititipkan tak ada gunanya bila kertasnya disimpan di laci dan tak pernah dimasak. Iman yang diterima pun bisa mati bila hanya ditumpuk sebagai pengetahuan, tidak dihidupi dan tidak diteruskan.

Pertanyaan yang tinggal: apakah rantai itu berhenti di kita, atau berlanjut? Resep opor pun hilang bila satu generasi malas memasak. Iman juga. Yang kita terima cuma-cuma wajib kita teruskan cuma-cuma. Kepada anak, kepada tetangga, kepada siapa saja yang belum mendengar bahwa kubur itu kosong.

Kepada siapa iman ini dipercayakan lewat kita, dan sudahkah kita mulai meneruskannya?

Tuhan, aku menerima iman ini dari tangan yang tak kukenal semua namanya. Jadikanlah aku mata rantai yang tidak putus. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →