Selasa, 21 April 2026
Kata Terakhir yang Mengampuni
Kata-kata terakhir seseorang yang dizalimi biasanya paling jujur. Di ambang penderitaan, topeng tanggal, dan yang keluar adalah isi hati yang sesungguhnya. Sebagian orang menutup hidupnya dengan kutukan bagi para penindasnya. Itu wajar, bahkan bisa dimengerti. Tetapi ada juga yang menutupnya dengan cara yang mematahkan akal sehat kita.
Stefanus sedang dilempari batu sampai mati. Tuduhan atasnya palsu, hukumannya kejam, dan di antara para saksi yang menyetujui kematiannya berdiri seorang muda bernama Saulus, yang menjaga jubah para pelempar. Di tengah hujan batu itu, Stefanus berlutut dan berseru dengan suara nyaring: Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka. Lalu ia meninggal.
Kata-kata itu bukan sepenuhnya miliknya sendiri. Ia sedang menggemakan Tuhannya, yang di kayu salib berdoa bagi orang-orang yang menyalibkan-Nya. Stefanus, martir pertama, mati dengan cara yang sama seperti Guru yang diikutinya: mengampuni sambil disakiti. Iman Paskah ternyata bukan hanya soal percaya bahwa Yesus bangkit, melainkan menjadi serupa dengan Dia bahkan di saat yang paling gelap.
Dan siapa yang tahu buah dari doa itu? Saulus yang menyaksikan pengampunan itu kelak menjadi Paulus, rasul terbesar Gereja. Pengampunan yang ditaburkan di tengah penderitaan tidak pernah benar-benar sia-sia; ia bekerja diam-diam di hati orang yang menyaksikannya, bahkan bertahun-tahun kemudian.
Tuhan, ketika aku disakiti, jauhkanlah kepahitan dari mulutku. Ajarilah aku mengampuni seperti Stefanus, seperti Engkau, dan biarlah pengampunan itu menabur benih yang tak kulihat. Amin.