Minggu, 19 April 2026
Tinggallah Bersama Kami
Di kampung, seorang tamu yang hendak pamit sering ditahan dulu. Mampir dulu, makan dulu, hari sudah sore, begitu kata tuan rumah. Menahan tamu supaya tinggal adalah bentuk kasih yang paling sederhana dan paling tua. Ada sesuatu yang tidak ingin kita lepaskan begitu saja ketika kehadiran seseorang terasa menghangatkan rumah dan hati kita.
Dua murid dalam perjalanan ke Emaus mengalami dorongan itu. Sepanjang jalan, orang asing yang menjelaskan Kitab Suci telah membuat hati mereka berkobar, meski mereka belum juga mengenali siapa Dia. Ketika sampai di kampung tujuan, Ia berbuat seolah hendak meneruskan perjalanan. Dan di sinilah seluruh kisah nyaris berbelok. Andai mereka membiarkan Dia berlalu, hari itu akan berakhir dengan hati yang hangat tetapi mata yang tetap tertutup. Tetapi mereka mendesak-Nya: tinggallah bersama kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.
Maka Sang Tamu pun masuk untuk tinggal, dan terjadilah pertukaran peran yang indah. Di meja itu, tamu berubah menjadi tuan rumah. Ia mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya, dan memberikannya kepada mereka. Persis pada gerakan itulah terbukalah mata mereka, dan mereka mengenali Dia, tepat sebelum Ia lenyap dari pandangan. Mereka mengenali Yesus bukan pada saat Ia menjelaskan Kitab Suci, melainkan pada saat Ia memecah roti. Firman menghangatkan hati; roti yang dipecah membuka mata.
Inilah gambaran perjalanan iman kita sendiri setiap kali merayakan Ekaristi. Kitab Suci lebih dahulu diterangkan bagi kita dalam Liturgi Sabda, menyalakan hati yang mungkin datang dalam keadaan muram. Lalu roti dipecah di altar, dan di situ kita mengenali Tuhan yang tidak kelihatan oleh mata biasa. Bukan kebetulan bahwa Gereja mengenali Kristus dengan cara yang sama sampai hari ini: dalam Firman yang diterangkan dan dalam roti yang dipecah.
Minggu lalu Petrus mengingatkan kita akan sukacita yang tak terkatakan bagi orang yang percaya tanpa melihat. Hari ini, dalam bacaan kedua, ia menambahkan mengapa perjumpaan dengan Kristus itu begitu berharga sekaligus begitu mahal. Kita ditebus dari cara hidup yang sia-sia yang kita warisi, bukan dengan barang yang fana seperti perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus, seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. Roti yang dipecah di Emaus itu menunjuk kepada tubuh yang telah dipecah di kayu salib demi kita. Pengenalan yang manis itu berakar pada penebusan yang berat.
Maka undangan kedua murid itu layak menjadi doa kita sendiri, terutama pada saat-saat hidup terasa gelap. Setiap kali kita merasa Tuhan seakan hendak berlalu dan meninggalkan kita, kita boleh menahan-Nya seperti mereka: tinggallah bersama kami. Dan Ia yang sebenarnya paling ingin tinggal itu pasti masuk, duduk semeja, lalu memecah roti bagi kita sampai mata kita terbuka.
Tuhan, tinggallah bersama kami, sebab hari kerap terasa menjelang malam. Terangilah hati kami dengan sabda-Mu dan bukalah mata kami dalam roti yang Kaupecah bagi kami. Amin.